AdvetorialKutai Timur

250 UMKM Kutim Dipertemukan dengan Lembaga Keuangan Lewat BIMA ETAM

Kutai Timur — Sebanyak 250 pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mendapat ruang untuk memperluas akses permodalan melalui BIMA ETAM (Business Matching Pembiayaan serta Edukasi dan Literasi Keuangan UMKM) Seri ke-16 di Ruang Meranti, Kantor Bupati Kutim pada Senin (31/8/2026).

Kegiatan tersebut mempertemukan pelaku usaha dengan lembaga jasa keuangan melalui business matching. Peserta dapat memperoleh informasi mengenai alternatif pembiayaan, berkonsultasi langsung mengenai kebutuhan modal, hingga mengetahui riwayat kredit melalui Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) OJK.

Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman, hadir bersama Asisten II Seskab Kutim Noviari Noor, jajaran kepala perangkat daerah, perwakilan Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), lembaga jasa keuangan, serta para pelaku UMKM.

Asisten Direktur Kantor Perwakilan BI Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim), Abraham Wahyu, menjelaskan, BIMA ETAM menjadi bagian dari sinergi antara BI, OJK, pemerintah daerah (pemda), lembaga jasa keuangan, dan mitra strategis untuk memperluas akses pembiayaan sekaligus meningkatkan literasi dan inklusi keuangan UMKM.

“BIMA ETAM ini untuk menjembatani kebutuhan UMKM dengan layanan lembaga keuangan melalui business matching,” ujar Wahyu.

Ruang pertemuan tersebut tidak hanya digunakan untuk penyampaian edukasi. Sejumlah lembaga jasa keuangan juga membuka desk pembiayaan dan mini booth sehingga pelaku usaha dapat memperoleh informasi secara langsung mengenai produk yang tersedia, berkonsultasi, serta mengajukan kredit atau pembiayaan sesuai kebutuhan.

Kepala Divisi Layanan Manajemen Strategis dan Koordinasi Regional OJK Kaltim Kaltara, Ali Ridwan, turut menekankan pentingnya pemahaman masyarakat terhadap produk dan layanan keuangan. Ia menyebut indeks literasi keuangan nasional pada 2026 mencapai 69,57 persen, sementara inklusi keuangan berada di angka 93,61 persen.

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan penggunaan produk dan layanan keuangan telah cukup luas, namun pemahaman masyarakat masih perlu diperkuat. Literasi menjadi bagian penting agar masyarakat dapat menggunakan layanan keuangan secara tepat sekaligus terhindar dari berbagai risiko.

Bagi UMKM, akses pembiayaan tersebut menjadi salah satu kebutuhan untuk mengembangkan usaha.

Namun, Bupati Kutim, Ardiansyah mengingatkan agar pelaku usaha tetap berhati-hati dalam menentukan sumber permodalan.

“Jangan pinjam uang di pinjol, apalagi rentenir,” tegas Ardiansyah.

Dirnya turut mendorong agar UMKM Kutim tidak berhenti pada penguatan usaha di pasar lokal. Ia berharap pelaku usaha secara bertahap mampu memperluas jangkauan pasar hingga tingkat regional dan global.

Sementara itu, Kepala Bagian Perekonomian Setkab Kutim, Suriansyah, mengatakan jumlah peserta BIMA ETAM disesuaikan dengan kapasitas tempat dan waktu pelaksanaan. Meski demikian, kegiatan tersebut akan dilaksanakan secara berkala agar pelaku UMKM dapat memperoleh kesempatan secara bergantian.

Ia berharap pengetahuan yang diperoleh peserta tidak berhenti pada kepentingan usaha masing-masing, tetapi turut dibagikan kepada pelaku UMKM lainnya.

“Harapannya yang datang ini bukan untuk dirinya sendiri. Dia pulang, dia bisa cerita dengan kawan-kawannya sesama pelaku UMKM dan menularkan ilmu yang dia dapat di sini,” singkatnya.

Melalui pelaksanaan BIMA ETAM secara berkala, akses informasi dan pembiayaan diharapkan semakin terbuka bagi pelaku UMKM Kutim. Pertemuan langsung dengan lembaga keuangan juga memberi ruang bagi pelaku usaha untuk mengenali pilihan pembiayaan sebelum menentukan langkah pengembangan usaha. (TS/ADV)

Loading

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *