Kutai Timur — Proyek PT Bumi Etam Chemical (BEC) Coal to Methanol di Kecamatan Bengalon, Kabupaten Kutai Timur (Kutim), diproyeksikan membuka ribuan peluang kerja sejak tahap pembangunan hingga operasional. Pada masa konstruksi, kebutuhan tenaga kerja diperkirakan mencapai 5.000 orang pada periode puncak, sementara ketika memasuki tahap operasional, BEC diperkirakan membutuhkan hampir 800 tenaga kerja.
Presiden Direktur PT Bumi Etam Chemical, Rio Supin, mengatakan bahwa kebutuhan tenaga kerja tersebut menjadi salah satu bagian penting dari pengembangan proyek hilirisasi batu bara yang memasuki tahap pembangunan setelah groundbreaking, Senin (31/8/2026).
Menurut Rio, kebutuhan tenaga kerja selama proses konstruksi berada pada kisaran 2.000 pekerja secara rata-rata dan dapat meningkat hingga sekitar 5.000 orang pada periode puncak pembangunan.
Besarnya kebutuhan tersebut sekaligus membuka peluang bagi tenaga kerja untuk terlibat dalam proyek industri berskala besar di Kutim. Namun, fasilitas yang dikembangkan BEC membutuhkan sejumlah keahlian khusus yang saat ini masih terbatas di Indonesia.
Karena itu, perusahaan berencana menyiapkan tenaga kerja melalui proses pelatihan. Penyiapan tersebut juga diarahkan melalui kerja sama dengan institusi pendidikan vokasi agar kebutuhan kompetensi industri dapat dipenuhi.
“Untuk pekerja ini belum ada juga di Indonesia, jadi kita training dari awal,” tuturnya.
Setelah memasuki tahap operasional, kebutuhan tenaga kerja diperkirakan berada di angka hampir 800 orang. Jumlah tersebut menunjukkan kebutuhan sumber daya manusia (SDM) tidak hanya muncul selama pembangunan, tetapi berlanjut ketika fasilitas mulai menjalankan kegiatan operasional.
Selain penyerapan tenaga kerja, proyek BEC juga diproyeksikan menghasilkan sekitar 2 juta ton produk metanol. Dirinya mengatakan produksi tersebut nantinya diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Apabila terdapat kelebihan produksi, produk akan diarahkan untuk pasar ekspor.
“Harapannya pertama targetnya adalah memenuhi kebutuhan dalam negeri dulu, dan kemudian jika memang produksinya masih ada sisa, tentu kita akan jual ke ekspor,” ujar Rio.
Ia menjelaskan, sebelum memasuki tahap pembangunan, proyek BEC telah melalui proses kajian panjang selama sekitar 15 tahun. Setelah bankable feasibility study selesai pada 2025, para pemegang saham menyatakan komitmen untuk merealisasikan proyek tersebut.
Dengan kebutuhan tenaga kerja yang besar dan fasilitas industri yang membutuhkan kompetensi khusus, BEC juga melihat pembangunan proyek sebagai ruang untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia. Pelatihan sejak awal diharapkan dapat membantu menyiapkan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan industri.
Bagi Kutim, peluang tersebut menjadi bagian dari manfaat yang diharapkan muncul seiring pembangunan proyek. Penyerapan tenaga kerja dan peningkatan kapasitas SDM dapat menjadi salah satu ruang keterlibatan masyarakat dalam perkembangan industri di Bengalon. (TS/ADV)
![]()







