Kutai Timur — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) dengan tambahan personel di lapangan. Sebanyak 31 personel Yonif TP 879/Rangkok Cakti disiagakan membantu BPBD, termasuk untuk mendukung respons terhadap kejadian Karhutla selama 24 jam.
Kepala BPBD Kutim, Sulastin, mengatakan bahwa dukungan tersebut menjadi bagian dari penguatan personel yang saat ini dilakukan untuk menghadapi potensi Karhutla di sejumlah wilayah. Sebanyak 31 personel dari Yonif TP 879/Rangkok Cakti akan membantu tim BPBD dalam penanganan di lapangan.
“Kalau yang 31 orang itu dari Yonif 879. Mereka akan membantu kita dalam penanganan Karhutla dan standby 24 jam di BPBD,” ujar Sulastin ditemui usai mengikuti audiensi bersama Mabes TNI dan Bupati Kutim, Senin (31/8/2026).
Selain personel yang difokuskan untuk mendukung penanganan, BPBD juga mendapat dukungan 12 personel dari Mabes TNI dan Sesko. Tim tersebut memiliki fokus berbeda, yakni memperkuat sosialisasi dan penyuluhan mengenai pencegahan Karhutla di wilayah yang memiliki potensi maupun riwayat kejadian kebakaran.
BPBD telah menyusun agenda penyuluhan yang akan dimulai dari Kecamatan Bengalon, kemudian dilanjutkan ke Muara Wahau dan Kongbeng. Kegiatan tersebut dijadwalkan berlangsung hingga 7 September 2026.
“Untuk penyuluhan sudah kita buat jadwalnya. Awalnya di Bengalon, kemudian ke Muara Wahau dan Kongbeng,” jelasnya.
Penguatan personel dilakukan di tengah pemantauan hotspot di sejumlah wilayah Kutim. Berdasarkan pemantauan BPBD, terdapat 51 titik hotspot yang tersebar di delapan kecamatan.
Bengalon menjadi salah satu wilayah dengan jumlah titik yang cukup banyak. Sebagian besar titik berada pada kategori sedang, sementara dua titik tercatat dalam kategori tinggi dan menjadi perhatian untuk segera ditindaklanjuti.
“Hotspot ada 51 yang tersebar di delapan kecamatan. Banyak di Bengalon. Masih kelas menengah, hanya dua yang tinggi,” tuturnya
Penanganan Karhutla juga dilakukan melalui koordinasi lintas instansi. BPBD berkoordinasi dengan unsur TNI, termasuk TNI AL, yang turut memberikan dukungan berupa titik air untuk menunjang kebutuhan tim dalam penanganan kebakaran.
Dengan tambahan personel tersebut, BPBD akan mengatur pola penempatan berdasarkan perkembangan kondisi di masing-masing wilayah. Salah satu pola yang masih dikoordinasikan yakni menggabungkan personel dengan tim yang telah bergerak di wilayah Muara Wahau dan Kongbeng.
“Nanti akan kita atur, apakah tim digabung ke Wahau-Kongbeng atau bagaimana pola kolaborasinya,” tutupnya.
Penguatan tersebut tidak hanya diarahkan untuk mempercepat respons ketika kebakaran terjadi, tetapi juga memperkuat pencegahan melalui edukasi. Dengan pembagian dukungan personel sesuai tugasnya, BPBD Kutim berupaya menjaga kesiapsiagaan sekaligus memperluas langkah pencegahan Karhutla di wilayah yang membutuhkan perhatian. (TS/ADV)
![]()







