AdvetorialKutai Timur

Wamen ESDM Ungkap Peran BEC Dukung Kemandirian Energi Nasional

Kutai Timur — Proyek PT Bumi Etam Chemical (BEC) Coal to Methanol di Kecamatan Bengalon, Kabupaten Kutai Timur (Kutim), dinilai memiliki peran strategis dalam memperkuat hilirisasi batu bara sekaligus memenuhi kebutuhan metanol nasional. Pemerintah melihat pengolahan batu bara menjadi metanol sebagai salah satu langkah untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam (SDA) di dalam negeri.

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot Tanjung, menyampaikan hal tersebut saat menghadiri groundbreaking proyek BEC di Bengalon, Senin (31/8/2026).

Menurut Yuliot, pembangunan proyek tersebut merupakan hasil dari proses panjang yang telah berlangsung selama belasan tahun, mulai dari pengurusan perizinan hingga berbagai tahapan persiapan pembangunan.

“Ini sudah cukup lama. Dari tahun 2010 sudah mengurus perizinan dan persiapan-persiapan sampai dengan groundbreaking ini. Berarti kita membutuhkan waktu sekitar 15 tahun untuk mempersiapkan kegiatan hilirisasi batu bara ini,” ujar Yuliot.

Ia mengatakan Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) memiliki posisi strategis sebagai salah satu lumbung energi nasional. Melalui proyek coal-to-methanol, batu bara dapat diolah menjadi produk bernilai tambah dan membuka peluang pengembangan industri turunannya.

Kebutuhan metanol juga diperkirakan meningkat seiring implementasi peningkatan campuran biodiesel dari B50 menuju B60. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan pemerintah mendorong penguatan produksi metanol di dalam negeri.

“Dari implementasi B60 ini, kebutuhan kita terhadap metanol akan meningkat lagi. Diperkirakan nilainya untuk implementasi metanol sekitar Rp9 triliun. Kalau kita masih tetap impor dengan nilai sekitar Rp 9 triliun, ini berarti devisa kita keluar,” tuturnya.

Karena itu, keberadaan fasilitas produksi metanol di Bengalon diharapkan dapat membantu mengurangi ketergantungan terhadap produk impor. Selain memenuhi kebutuhan domestik, metanol juga memiliki peluang dikembangkan menjadi produk turunan seperti Dimethyl Ether (DME) yang berpotensi membantu mengurangi ketergantungan terhadap impor LPG.

Peluang tersebut tidak hanya berada di pasar domestik. Dirinya menyebut pasar metanol dunia diperkirakan mencapai sekitar 56 miliar dolar AS pada 2030. Besarnya pasar tersebut membuka peluang bagi Indonesia untuk mengambil bagian dalam rantai pasok global.

“Secara global, untuk metanol pangsa pasarnya diperkirakan sampai dengan 2030 sekitar 56 miliar US dollar. Di samping kebutuhan dalam negeri, kita juga bisa masuk di dalam rantai pasok global,” ucapnya.

Proyek BEC juga terintegrasi dengan pembangunan unit pembangkit listrik berkapasitas sekitar 3 x 400 megawatt (MW) untuk mendukung kebutuhan operasional kawasan industri. Pembangkit tersebut diarahkan menggunakan teknologi yang lebih bersih melalui penerapan Carbon Capture and Storage (CCS).

Dirinya meminta pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan ikut mengawal pembangunan agar proyek dapat berjalan sesuai rencana dan mulai beroperasi pada 2029.

Menurutnya, manfaat proyek perlu terlihat melalui penciptaan lapangan kerja, tumbuhnya industri pendukung, dan peningkatan aktivitas ekonomi.

“Kami berharap dengan proyek yang memberikan multiplier effect yang nyata bagi seluruh stakeholder, baik penciptaan lapangan kerja, tumbuhnya industri pendukung, serta peningkatan aktivitas ekonomi, ini menjadi contoh keberhasilan yang perlu kita jaga bersama,” jelasnya.

Dengan dimulainya pembangunan BEC, pemerintah berharap hilirisasi batu bara tidak berhenti pada pengolahan bahan mentah menjadi metanol, tetapi berkembang menjadi rantai industri yang mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri sekaligus membuka peluang Indonesia masuk ke pasar global. (TS/ADV)

Loading

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *