Kutai Timur — Salat Istisqa yang digelar di Lapangan Kantor Bupati Kutai Timur (Kutim), Sabtu (29/8/2026) pagi, menjadi momentum bagi jemaah untuk melakukan muhasabah sekaligus memperbanyak istigfar di tengah kondisi kemarau yang melanda wilayah tersebut.
Pesan tersebut disampaikan Ustaz Abdul Basid dalam tausiyah sebelum pelaksanaan Salat Istisqa. Ia mengajak jemaah tidak hanya memanjatkan permohonan agar hujan segera turun, tetapi juga menyadari berbagai kelalaian dan kesalahan yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam tausiyahnya, Abdul Basid mengingatkan bahwa musibah dapat menjadi momentum bagi manusia untuk mengevaluasi diri. Ia mengutip Surah Asy-Syura ayat 30 yang berbunyi, “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar dari kesalahan-kesalahanmu.”
Ia kemudian mengaitkan pentingnya memperbanyak istigfar dengan janji Allah dalam Surah Nuh ayat 10–12. Menurut pesan yang disampaikannya, permohonan ampun kepada Allah tidak hanya menjadi jalan untuk memohon pengampunan atas kesalahan, tetapi juga menjadi bagian dari ikhtiar spiritual untuk memohon turunnya hujan yang membawa keberkahan.
“Berikan kami hujan keberkahan, ya Allah. Bukan hujan yang membawa adzab, melainkan air yang menyuburkan tanah, menghidupkan tanaman, dan mencukupi kehausan makhluk-Mu di bumi Kutai Timur ini,” ucapnya.
Pesan tersebut kemudian mengiringi pelaksanaan Salat Istisqa yang berlangsung khusyuk. Pada rakaat kedua, doa qunut khusus dibacakan. Jemaah juga membalikkan posisi selendang atau pakaian luar sebagai bagian dari rangkaian ibadah yang menjadi simbol harapan akan perubahan dari kondisi sulit menuju kemudahan.
Senada dengan itu, Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman, turut menguatkan pesan tentang pentingnya introspeksi diri. Dirinya mengatakan, kesempatan melaksanakan Salat Istisqa juga menjadi ruang bagi umat untuk memperbanyak istigfar dan memohon ampun kepada Allah SWT.
“Bisa jadi karena memang ini kelalaian kita, kesalahan kita, mungkin tidak kita sadari. Kesempatan Istisqa ini untuk lebih banyak melantunkan istigfar kepada Allah, minta ampun kepada Allah, sehingga apa yang terhambat saat ini bisa dikabulkan Allah SWT,” tutur Ardiansyah.
Bupati menegaskan, ikhtiar spiritual tersebut tetap berjalan bersama usaha yang dilakukan secara teknis. Ia berharap doa yang dipanjatkan bersama dapat menjadi pelengkap ikhtiar menghadapi kondisi kekeringan.
“Kita telah berikhtiar secara teknis di lapangan, dan hari ini kita sempurnakan dengan doa. Semoga Allah SWT segera menurunkan rahmat-Nya melalui hujan yang berkah, menyegarkan kembali bumi Kutai Timur, dan mengakhiri masa kekeringan ini,” pungkasnya. (TS/ADV)
![]()







