Kutai Timur — Siapa bilang desa hanya punya cerita lama? Di tangan generasi muda Kutim, desa justru jadi bintang baru dalam panggung digital lewat ajang lomba vlog “Explore Potensi Desa Kutim 2025”. Kreativitas yang meledak dari kamera-kamera anak muda ini tak hanya memotret keindahan alam, tapi juga membangkitkan semangat membangun dari akar rumput.
Bupati Kutai Timur, Ardiansyah Sulaiman, yang hadir langsung pada seremoni penyerahan hadiah di Ruang Meranti, Senin (19/5/2025), tak bisa menyembunyikan rasa bangganya. Ia terkejut dengan banyaknya peserta dan kualitas vlog yang dipamerkan.
“Baru pertama digelar, pesertanya 60 dan hampir merata di semua kecamatan. Ini energi muda yang harus terus dihidupkan!” ucapnya antusias.
Bukan sekadar kompetisi, ajang ini menjelma jadi wadah dokumentasi kreatif yang menyoroti desa-desa dengan kekhasan luar biasa—dari Desa Pisang, Desa Pepaya, hingga Desa Aor. Di sana, anak-anak muda menangkap denyut kehidupan lewat narasi, drone, dan suntingan visual yang apik. Banyak vlog yang nyaris setara produksi profesional.
Melalui sudut pandang anak muda, potensi lokal disulap jadi konten global. Ada yang mengangkat cerita batik, menggali budaya Suku Miau Baru, bahkan menampilkan hasil perkebunan Kelulut hingga ekspor buah tropis. Semua terangkum dalam karya berdurasi pendek, tapi berisi dalam makna.
“Tanpa mereka, potensi desa kita mungkin masih terpendam. Sekarang, dunia bisa melihat dari layar ponsel,” kata Ardiansyah. Ia menyebut lomba ini sebagai bukti bahwa Kutim tak kekurangan bintang—bintang muda yang bersinar bukan karena glamor, tapi karena cinta pada tanah kelahiran.
Naomi Sachi sukses menyabet Juara 1 lewat vlog tentang Desa Sangatta Selatan. Laurentina Mili Maku jadi Juara 2 dengan video eksplorasi Batik Juwita dari Swarga Bara. Sementara Devin Adriansyah Lukman mengunci posisi Juara 3 berkat ekspos Desa Bukit Makmur yang memukau.
Yang unik, pemenang bukan cuma ditentukan dari kualitas teknis, tapi juga dari sentuhan rasa. Flora Laway, misalnya, sukses merebut hati Bupati lewat vlognya di Desa Mekar Baru. Kaindi Biru pun menyabet dua gelar: Juara 5 dan Favorit Instagram berkat pengangkatannya terhadap budaya Suku Miau Baru.
Lebih dari sekadar pemenang, ajang ini memperlihatkan bahwa transformasi digital bukan monopoli kota. Desa pun bisa bersinar asal diberi ruang, ditopang semangat, dan dirangkul teknologi.
“Kita tidak perlu menunggu pengakuan dari luar. Ketika anak-anak muda kita sudah bisa membuat kita bangga, itulah kemenangan sejati,” pungkas Ardiansyah. (SH)
![]()









