Balikpapan — Angkutan kota (angkot) yang ada di benak masyarakat identik dengan knalpot berasap, polusi suara, dan rute yang membingungkan.
Balikpapan, gerbang utama Ibu Kota Nusantara (IKN) kini tengah merancang konsep yang baru, yakni transportasi publik wajib beralih ke listrik, terintegrasi, dan serba tanpa uang tunai.
Ini bukan sekadar perbaikan kosmetik, melainkan grand design ambisius yang bertujuan membunuh kemacetan dan polusi, sekaligus menegaskan peran Balikpapan sebagai kota penyangga IKN yang berorientasi pada keberlanjutan.
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Balikpapan, Muhammad Fadli Pathurrahman, dengan tegas menyatakan bahwa modernisasi adalah kunci untuk menghadapi pertumbuhan populasi dan memenuhi target nasional pengurangan emisi karbon.
Balikpapan menargetkan pengurangan emisi hingga 30 persen dari sektor transportasi publik melalui implementasi armada rendah emisi.
“Komitmen kami adalah memperkuat layanan angkutan umum agar lebih efisien, modern, dan yang terpenting, ramah lingkungan. Transisi menuju kendaraan listrik untuk beberapa koridor adalah keharusan masa depan,” ungkap Fadli, Senin (24/11/2025).
Transisi ini akan dimulai dari unit layanan pemerintah, seperti bus sekolah dan shuttle transportasi, sebelum diterapkan pada angkutan umum reguler.
Untuk menciptakan daya tarik bagi warga agar beralih dari kendaraan pribadi, Dishub fokus melakukan penataan ulang rute angkutan kota agar lebih terorganisir dan mampu menjangkau titik-titik strategis, termasuk akses vital menuju bandara, terminal, pelabuhan, dan jalur konektivitas IKN.
Integrasi antarmoda menjadi prioritas utama. Layanan angkutan kota, bus sekolah, angkutan daring (online), dan layanan transportasi lainnya akan dipadukan dalam satu sistem.
”Kami sedang menyiapkan rencana agar perpindahan moda transportasi dari satu sistem ke sistem lain menjadi semudah dan sefleksibel mungkin, didukung oleh penerapan sistem tiket digital (cashless ticketing),” jelasnya.
Selain itu, Dishub juga memperkuat fondasi fisik dengan penambahan dan perbaikan halte modern, pembangunan transit point sebagai pusat perpindahan antar penumpang, serta penyiapan jalur khusus bus pada koridor-koridor prioritas.
Transisi transportasi ini memang membutuhkan komitmen anggaran besar, namun investasi ini adalah janji untuk kualitas hidup masyarakat Balikpapan yang lebih sehat.
Transportasi publik yang modern dan terintegrasi adalah indikator peradaban sebuah kota. Menurut Fadli, memperkuat angkutan umum adalah cara paling efektif untuk mengurangi kemacetan dan menekan kebutuhan penggunaan kendaraan pribadi.
Ketika bus listrik dan sistem tiket digital terintegrasi penuh, warga ditantang untuk meninggalkan zona nyaman. Dishub Balikpapan tidak hanya membangun rute, tetapi juga membangun sebuah budaya mobilitas yang mendefinisikan Balikpapan sebagai kota penyangga IKN yang benar-benar modern dan berkelanjutan, bukan sekadar pelabuhan singgah.
Kolaborasi dengan investor dan pemerintah pusat, termasuk rencana Bus Rapid Transit (BRT) Balikpapan–IKN, menjadi kunci untuk mewujudkan mimpi ini.
“Transportasi adalah wajah sebuah kota. Kami ingin warga melihat angkutan umum sebagai pilihan utama, bukan pilihan terakhir,” tutupnya.
Terakhir, ia menekankan bahwa Balikpapan harus menjadi Kota yang teladan, tertib, modern, dan berkelanjutan. (ADV)
![]()









